Safety Stock: Pengertian, Manfaat, dan Cara Menghitungnya

Hanif 03 May 2024 5 Menit 0

Ketika mempalajari Industri atau manajemen bisnis, mungkin Anda bertanya-tanya apa itu Safety Stock? Atau mungkin Anda pernah mengalami situasi ketika pelanggan mendatangi bisnis Anda, tetapi barang yang mereka inginkan malah habis atau kosong.

Yup, momen seperti itu bisa jadi disebabkan karena Anda belum memahami benar apa itu safety stock. Mudahnya begini, safety stock diibaratkan ‘payung’ yang menjaga Anda agar tidak basah saat musim hujan tiba-tiba datang.

Meski terkadang dipandang sebelah mata, tetapi faktanya bagian dari manajemen logistik ini memiliki perhitungan yang cukup rumit lho! Penasaran bagaimana memahami dan menghitungnya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Apa itu Safety Stock?

Safety stock (stok pengaman) adalah sejumlah stok tambahan yang disimpan oleh perusahaan untuk mencegah kekosongan stok akibat perbedaan antara permintaan aktual dan permintaan yang diperkirakan.

Menurut ahli manajemen persediaan, Dr. Steven A. Melnyk, safety stock diterjemahkan sebagai “jumlah tambahan inventaris yang disimpan untuk melindungi terjadinya variasi permintaan dan ketidakpastian dalam proses pasokan atau waktu pengiriman.”

Dengan kata lain, safety stock adalah cadangan barang yang sengaja disimpan atau dikelola oleh perusahaan untuk menghindari kehabisan stok saat terjadi fluktuasi permintaan atau gangguan pasokan.

Ya bisa dibilang stok cadangan ini menjadi jaminan agar Anda tidak kehabisan stok dan kehilangan kesempatan menjual barang ke konsumen.

Mengingat dinamika permintaan pasar bisa berubah kapan pun, safety stock bisa jadi strategi bisnis yang paling tepat. Apalagi jika terjadi gangguan dalam rantai pasokan, seperti masalah transportasi, cuaca ekstrem, atau bahkan masalah produksi. Dengan memiliki safety stock, itu berarti Anda sudah siap payung sebelum hujan.

Perlu Anda ketahui pula, meski terdengar sama, tetapi sebenarnya buffer stock dan safety stock itu berbeda, loh!

Safety stock vs buffer stock

Dalam konteks bisnis, memiliki stok pengaman bukan berarti Anda hanya fokus mengumpulkan barang sembarangan. Anda perlu mempelajari pentingnya menentukan stok barang pengaman berikut ini!

2. Pentingnya Menentukan Safety Stock Barang

Memahami pentingnya safety stock bukan hanya soal menghindari kekosongan stok, tetapi juga tentang cara Anda bisa mengoptimalkan bisnis dan memenuhi harapan pelanggan. Eits, jangan buru-buru skip ya! Mari diuraikan satu per satu mengapa safety stock penting:

2.1. Mencegah Kehilangan Penjualan

Saat barang habis di etalase penyimpanan, potensi pelanggan berpaling ke kompetitor sangatlah besar. Dan, percaya deh! Kehilangan pelanggan pasti bukan sesuatu yang Anda inginkan, bukan? Adanya safety stock memang untuk meminimalkan risiko seperti ini.

2.2. Menjaga Kepuasan Pelanggan

Tahu kan betapa menyebalkannya saat Anda sudah excited mau beli sesuatu, tapi ternyata barangnya habis? Safety stock memastikan pelanggan Anda tidak merasakan kekecewaan yang sama.

2.3. Mengatasi Variabilitas Dalam Rantai Pasokan

Kadang ada banyak faktor tak terduga dalam rantai pasokan, mulai dari cuaca buruk, mogok kerja, hingga keterlambatan pengiriman. Dengan stok pengaman, Anda punya jaminan tambahan saat hal tak terduga terjadi.

2.4. Optimalisasi Biaya Operasional

Memang sih, menyimpan barang tambahan memerlukan biaya, akan tetapi dengan perencanaan yang matang, Anda bisa menyeimbangkan antara biaya penyimpanan dengan keuntungan dari menjaga ketersediaan barang.

2.5. Meningkatkan Efisiensi Produksi

Bagi perusahaan yang memproduksi berbagai jenis barang, safety stock bisa menjadi buffer saat ada gangguan dalam proses produksi, sehingga lini produksi tidak akan terganggu apalagi berhenti total dan bisa berjalan dengan lebih efisien.

2.6. Mengakomodasi Fluktuasi Permintaan

Pasar itu dinamis dan fluktuatif. Kadang permintaan akan suatu barang meningkat tajam, seperti musim liburan atau promo besar-besaran tetapi juga mengalami penurunan saat-saat tertentu. Nah, dengan safety stock, Anda akan lebih siap sedia menghadapi lonjakan permintaan tersebut.

Menarik, kan? Siapa sangka di balik ‘stok tambahan’ ini, ada banyak alasan mengapa penting untuk menentukan safety stock barang. Namun, pertanyaannya sekarang, gimana sih cara menghitung safety stock yang ideal?

3. Cara Menghitung Safety Stock

Sebenarnya tidak ada nilai atau persenan secara mutlak untuk menghitung berapa banyak barang cadangan yang dimasukkan ke dalam gudang sebagai safety stock.

Ada beberapa variabel yang perlu Anda pertimbangkan. Sebagai penjelasan, perhatikan contoh rumus dan perhitungan di bawah ini ya!

3.1. Rumus Dasar Safety stock

Rumus dasar nya adalah seperti ini

Safety stock = (maximum daily sales x maximum lead time) – (average daily sales x average lead time)

  • Maximum daily sales = jumlah maksimum penjualan harian
  • Maximum lead time = lama lead time/operasional pengiriman barang
  • Average daily sales = rata-rata penjualan harian
  • Average lead time = rata-rata lama lead time/lama waktu operasional pengiriman barang

3.2. Contohnya Perhitungan Safety Stock

Perusahaan A umumnya mampu menjual produk hingga 300 unit setiap hari dan bisa mencapai puncak penjualan hingga 350 unit. Kecepatan supplier Perusahaan A dalam pengiriman barang menjadi salah satu alasan utama. Rata-rata, supplier memerlukan waktu 3 hari untuk pengiriman dan maksimal mencapai 5 hari. Oleh karena itu, stok tambahan yang harus disediakan oleh perusahaan adalah:

Safety stock = (350 x 5) – (300 x 3) = 1.750 – 900 = 850

Selain perhitungan di atas, ada juga perhitungan safety stock dengan cara lain.

3.3. Rumus Safety Stock dengan distribusi normal/Z

Safety stock adalah - rumus safety stock
  • Rata-Rata Permintaan (D): Ini adalah jumlah rata-rata barang yang diminta oleh pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per hari atau per minggu.
  • Waktu Pemenuhan Standar (LT): Ini adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mendapatkan barang dari supplier setelah Anda memesannya.
  • Deviasi Permintaan (DD): Ini mengukur seberapa besar fluktuasi permintaan dari rata-ratanya. Intinya, ini mengukur ketidakpastian dari sisi permintaan.
  • Deviasi Waktu Pemenuhan (DLT): Ini mengukur seberapa sering waktu pemenuhan nyata berbeda dari rata-rata waktu pemenuhan. Mirip dengan DD, tapi fokus pada ketidakpastian waktu pengiriman.

Pages: 1 2

Bagikan ke:
Diarsipkan di bawah:
Hanif
Ditulis oleh

Hanif

hi, I'm a SEO content writer with interest on business, entrepreneur, digital marketing, and many more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *